Kendari – Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan menghadirkan perspektif global kepada civitas akademika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Kendari menyelenggarakan serangkaian kegiatan akademik yang komprehensif pada Senin, 7 April 2026. Acara yang berlangsung sehari penuh ini mencakup seminar internasional, webinar interaktif, dan kuliah umum dengan menghadirkan berbagai narasumber terkemuka dari institusi pendidikan nasional dan internasional.
Penyelenggaraan kegiatan akademik berskala besar ini merupakan komitmen FKIP Unismuh Kendari dalam mempersiapkan calon pendidik yang kompetitif dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan terkini. Tema sentral yang diangkat, yakni “Transformasi Pendidikan Digital di Era Merdeka Belajar: Strategi Inovasi dan Implementasi Praktis untuk Pendidik Masa Depan,” mencerminkan urgensi adaptasi sistem pendidikan terhadap dinamika global yang terus berkembang pesat.
Latar Belakang dan Motivasi Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan akademik skala besar ini tidak terlepas dari konteks pendidikan Indonesia yang sedang mengalami transformasi fundamental. Kebijakan Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah membuka peluang sekaligus tantangan bagi institusi pendidikan untuk berinovasi dalam metode pembelajaran. Sementara itu, integrasi teknologi digital dalam dunia pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang tidak dapat ditunda.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari, sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam mencetak generasi pendidik, merasakan perlunya forum diskusi intensif dan berbagi praktik terbaik untuk memastikan bahwa mahasiswa dan dosen memiliki pemahaman mendalam tentang landscape pendidikan kontemporer.
“Kami percaya bahwa pendidik adalah kunci utama dalam transformasi pendidikan. Oleh karena itu, perlu ada pembekalan berkelanjutan terhadap para calon pendidik agar mereka mampu tidak hanya menguasai konten mata pelajaran, tetapi juga mahir mengintegrasikan teknologi digital dengan pedagogis yang humanis,” ujar Prof. Dr. Amiruddin Syah, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Kendari, dalam pernyataan resmi kepada media kampus.
Rangkaian Kegiatan dan Narasumber Unggulan
Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA ini dimulai dengan sambutan resmi dari pimpinan universitas dilanjutkan dengan seminar internasional bertajuk “Digital Pedagogy in Southeast Asian Context: Challenges and Opportunities.” Seminar ini menghadirkan Dr. Sukma Wijaya, seorang pakar pendidikan digital dari Universitas Nasional Singapura, yang telah melakukan riset ekstensif tentang implementasi pembelajaran berbasis teknologi di kawasan Asia Tenggara.
Dalam sesinya, Dr. Sukma Wijaya menyampaikan bahwa tantangan utama dalam transformasi digital pendidikan di Asia Tenggara bukan semata-mata keterbatasan infrastruktur teknologi, melainkan perubahan mindset pendidik dan desain kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Saya telah mengunjungi berbagai institusi pendidikan di enam negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Yang saya temukan adalah bahwa sekolah dan universitas yang berhasil dalam transformasi digital bukan karena mereka memiliki perangkat terbaru, tetapi karena mereka memiliki guru-guru yang termotivasi dan didukung dengan pelatihan berkelanjutan,” ungkap Dr. Sukma Wijaya dalam kesempatan presentasinya.
Setelah seminar internasional, FKIP Unismuh Kendari menyelenggarakan lima sesi webinar paralel yang dirancang untuk memberikan pendalaman pada berbagai aspek spesifik pendidikan digital. Sesi pertama berfokus pada “Desain Pembelajaran Blended Learning untuk Sekolah Menengah,” yang dipandu oleh Dr. Rina Hartati, Direktur Pusat Inovasi Pendidikan dari Universitas Indonesia.
Sesi kedua mengangkat topik “Literasi Digital dan Mitigasi Risiko Media Sosial untuk Pendidik dan Peserta Didik,” dengan pembimbing Dr. Bambang Suryanto, pakar literasi digital dan psikologi media dari Universitas Airlangga Surabaya. Sementara itu, sesi ketiga berfokus pada “Pemanfaatan Artificial Intelligence dan Machine Learning dalam Personalisasi Pembelajaran,” dipandu oleh Ir. Dipa Kusuma, praktisi edtech dari Jakarta yang memiliki pengalaman lebih dari sepuluh tahun dalam industri pendidikan teknologi.
Sesi keempat menghadirkan “Pembelajaran Berbasis Proyek Interdisipliner di Era Digital,” dengan pembimbing Dr. Sinta Mahani, guru besar Fakultas Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Terakhir, sesi kelima menampilkan “Pengembangan Kurikulum Berkelanjutan dan Adaptif untuk Pendidik Independen,” yang dibina oleh Rendra Wijaya, M.Pd., seorang guru inovatif yang telah menerima penghargaan International Teacher Prize pada tahun 2024.
Kuliah Umum dan Diskusi Terbuka
Puncak dari rangkaian kegiatan adalah kuliah umum yang diselenggarakan pada sore hari, menghadirkan Prof. Dr. Endang Komara, Guru Besar Ilmu Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang juga menjadi konsultan kebijakan pendidikan nasional. Dalam kuliah umumnya, beliau memaparkan tentang “Filosofi dan Praktik Merdeka Belajar dalam Konteks Lokal: Dari Teori ke Implementasi.”
Prof. Endang Komara menekankan bahwa Merdeka Belajar bukan sekadar slogan, melainkan paradigma pendidikan yang menempatkan kemandirian, kreativitas, dan kesadaran kritis peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
“Banyak yang keliru memahami Merdeka Belajar sebagai pembelajaran tanpa struktur atau tanpa peran guru. Padahal, Merdeka Belajar memerlukan guru yang lebih terampil dalam memfasilitasi, bukan hanya mentransfer pengetahuan. Guru masa depan harus mampu merancang ekosistem pembelajaran yang memungkinkan siswa mengeksplorasi, bereksperimen, dan membangun pengetahuan secara konstruktif,” jelas Prof. Endang Komara dalam paparannya.
Sesi kuliah umum diikuti dengan tanya jawab interaktif yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan yang hadir. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian datang dari Siti Nurhaliza, mahasiswa semester enam Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unismuh Kendari.
“Prof, saya agak khawatir bagaimana caranya saya mengimplementasikan Merdeka Belajar di sekolah yang masih sangat terbatas sarana dan prasarana teknologinya. Apakah konsep ini hanya relevan untuk sekolah yang sudah maju?” tanya Siti.
Prof. Endang Komara menjawab dengan penuh perhatian, “Pertanyaan yang sangat bagus. Merdeka Belajar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi. Seorang guru yang kreatif dapat menerapkan prinsip-prinsip Merdeka Belajar dengan menggunakan sumber daya lokal, cerita rakyat, dan lingkungan sekitar sebagai bahan pembelajaran. Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Yang terpenting adalah mindset guru dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan berkembang sesuai dengan potensi mereka.”
Respons dan Antusiasme Peserta
Kegiatan yang dihadiri oleh lebih dari 800 peserta, termasuk mahasiswa FKIP dari berbagai program studi, dosen, guru-guru dari sekolah di kawasan Kendari dan sekitarnya, serta praktisi pendidikan, mendapatkan respons yang sangat antusias. Peserta acara tidak hanya mengikuti presentasi secara pasif, tetapi juga aktif berinteraksi, mencatat poin-poin penting, dan melakukan networking dengan para pembicara.
Hendro Sutrisno, seorang kepala sekolah dari SMA Negeri 2 Kendari yang hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan kepuasannya terhadap penyelenggaraan kegiatan akademik ini.
“Saya datang ke sini dengan membawa beberapa guru dari sekolah saya karena saya percaya bahwa forum seperti ini sangat penting untuk meng-update pengetahuan dan keterampilan pendidik. Topik-topik yang dibahas sangat relevan dengan tantangan yang kami hadapi di lapangan. Saya sudah mendapatkan banyak ide dan praktik terbaik yang bisa langsung saya terapkan di sekolah saya,” kata Hendro Sutrisno dengan antusiasme.
Dr. Yusuf Parlindungan, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKIP Unismuh Kendari, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap partisipasi aktif peserta.
“Kami sangat puas melihat respons yang luar biasa dari komunitas pendidikan di Kendari. Ini menunjukkan bahwa ada hunger yang kuat untuk terus belajar dan berkembang. Kehadiran praktisi, guru, dan calon pendidik dalam satu forum menciptakan sinergi yang berharga bagi peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan,” tutur Dr. Yusuf Parlindungan.
Dampak dan Rencana Keberlanjutan
Universitas Muhammadiyah Kendari melalui FKIP-nya tidak menganggap kegiatan akademik tanggal 7 April 2026 ini sebagai peristiwa sekali jadi, melainkan sebagai langkah awal dari program berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan calon pendidik. Hasil dan insight dari seminar, webinar, dan kuliah umum akan didokumentasikan, dianalisis, dan diterjemahkan ke dalam kurikulum dan program pengembangan profesional yang lebih terstruktur.
Rencana tindak lanjut meliputi pembentukan komunitas pembelajaran guru dan calon guru berbasis digital, penyusunan panduan implementasi Merdeka Belajar yang disesuaikan dengan konteks lokal Sulawesi Tenggara, dan pengembangan pusat pelatihan pendidikan digital yang dapat melayani guru-guru dari seluruh wilayah.
“Kami berkomitmen untuk menjadikan FKIP Unismuh Kendari sebagai pusat keunggulan dalam inovasi pendidikan di Indonesia Timur. Kolaborasi dengan para ahli nasional dan internasional seperti yang kami lakukan hari ini adalah bagian dari strategi jangka panjang kami,” kata Prof. Dr. Amiruddin Syah.
Penutup
Penyelenggaraan seminar internasional, webinar, dan kuliah umum pada 7 April 2026 oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari telah berhasil menciptakan ruang dialogis dan konstruktif bagi seluruh stakeholder pendidikan untuk berdiskusi tentang masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif, inovatif, dan relevan.
Kegiatan ini membuktikan bahwa institusi pendidikan di daerah tidak harus tertinggal dalam mengakses dan berbagi pengetahuan terkini. Dengan komitmen, dedikasi, dan kolaborasi strategis, FKIP Unismuh Kendari telah menunjukkan bukti nyata dalam berkontribusi pada transformasi pendidikan nasional yang lebih bermakna dan berkelanjutan.